Kenali Gejala-gejala Kanker Nasofaring yang Diderita Ustad Arifin Ilham

Mengapa harus Main Hakim Sendiri ?


Mengapa harus Main Hakim Sendiri ??

Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) mencatat tak kurang dari 6.807 konflik kekerasan terjadi selama Januari hingga November 2014. Dari jumlah tersebut, main hakim sendiri menyumbang 3.952. Sedangkan 786 insiden berkaitan dengan sengketa sumber daya, 767 berhubungan dengan perseteruan identitas, 467 menyangkut pemilihan dan jabatan, 456 berasal dari konflik tata kelola pemerintahan, serta 41 konflik dipicu separatisme. Sisanya, 338 berasal dari luar kategori konflik tersebut.

Data SNPK juga menampilkan dampak dan sebaran peristiwa tak peduli hukum. Dari segi dampak, main hakim sendiri mengakibatkan 282 orang tewas, 1.032 mengalami cedera, dan 422 bangunan rusak. Ibu Kota dan sekitarnya menempati urutan ketiga di level provinsi yang paling banyak main hakim sendiri. Terdapat 449 kasus main hakim sendiri di wilayah tersebut. Kejadian yang paling sering dipantik adalah pencurian atau penjambretan.

Mengapa begitu mudahnya masyarakat melakukan tindakan main hakim sendiri, Alasan mengapa masyarakat lebih sering main hakim sendiri saat ini timbul karena berbagai faktor:

1.Faktor pertama
adalah persoalan psikologis yang saat ini terjadi pada masyarakat. Alasan psikologis bisa jadi ditimbulkan karena tekanan ekonomi yang serba sulit yang melahirkan rasa frustasi. Hidup dalam keadaan tertekan ditambah lagi adanya kesenjangan sosial antara kaya dan miskin yang lebar menimbulkan gesekan sosial.

2.Faktor kedua
adalah  ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum. Saat ini sedang terjadi kondisi dimana tatanan sistem hukum yang dijalankan oleh pemerintah dalam arti luas tidak lagi dipercaya oleh masyarakat. Kondisi ini memiliki ciri-ciri dimana hukum tidak lagi dipandang sebagaihuman institutionyang dapat memberikan rasa perlindungan hak-haknya sebagai warga negara. Oleh karena itu, harus segera dilakukan langkah-langkah untuk melakukan pengembalian kepercayaan tersebut.

3.Faktor ketiga,
komunikasi masyarakat dan aparat penegak hukum yang kurang atau belum tersosialisasikan dengan baik sehingga pada saat membutuhkan pertolongan hukum, masyarakat mengalami kebingungan.


Main hakim sendiri bukanlah cermin masyarakat demokratis. Demokrasi Indonesia bisa tumbang jika kita cenderung memilih cara kekerasan dalam mengelola konflik. Masyarakat harus menahan diri dan mencari keadilan di meja hijau. Jika rasa aman dan keadilan belum ditemukan, kita bisa mencarinya melalui institusi-institusi formal yang disediakan demokrasi. Para pelaku kriminal merupakan bagian dari masyarakat yang butuh dibina, bukan dibinasakan.

Mengelola konflik dengan cara nirkekerasan butuh kemauan, kemampuan, dan kesabaran dari semua pihak. Jika kita mengabaikan proses tersebut, pemerintah dan masyarakat sedang mengalami pembusukan.

Guna mencegah terjadinya peristiwa tersebut, maka ada baiknya melakukan tindakan seperti :
1. Menekankan kembali kepada seluruh masyarakat untuk menghindari segala bentuk tindak kekerasan yang menjurus pada tindakan main hakim sendiri
2. Berupaya menyelesaikan permasalaham dengan mengutamakan proses hukum dan mengambil tindakan tegas kepada oknum yang melakukan pelanggaran
3. Mewaspadai provokasi pihak-pihak tertentu yang menginginkan terjadinya konflik
4. Setiap kasus perkelahian harus segra diproses secara cepat , tepat dan tuntas dengan sanksi yang tegas sesuai dengan prosedur hukum dan peraturan yang berlaku.

Komentar