Inilah Gejala Kanker Otak yang Diderita Agung Hercules

Psikologis anak Broken Home



Tidaklah asing untuk mengingat dan mengucapkan kata "Keluarga" . Tapi bagaimana jika pertanyaan ini ditanyakan ke seseorang yang memiliki pengalaman pahit oleh keluarganya ?


Mempunyai keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang adalah kebahagiaan tak terkira bagi seorang anak. Karena selain menjadi tempat paling nyaman untuknya berbagi cerita serta kebahagiaan, keluarga juga menjadi tempat pembentukan karakter yang pertama dan utama bagi mereka.


Tapi bagaimana dengan nasib seorang anak yang mengalami broken home ? ketidakharmonisan keluarga yang berujung pada perceraian kedua orang tua adalah pukulan terbesar bagi seorang anak. Bagimana tidak ? dengan berbagai latar belakang yang menjadi penyebab terjadinya ketidakharmonisan tersebut, anak selalu saja menjadi pihak yang paling dirugikan. Baik dari segi jasmani maupun psikis mereka.

Karakter dan watak anak yang mengalami broken home akan sangat jauh berbeda, kepercayaan diri mereka , semangat hidup mereka semuanya akan sirna begitu saja dan berganti menjadi seorang anak yang pendiam, tertutup dan penyendiri.


Namun jika memang broken home telah menimpa keluarga kita dan  melibatkan anak-anak, maka ada baiknya jika kita segera melakukan pendekatan kepada mereka untuk mengurangi dampak lebih lanjut yang tidak diinginkan. Hal-hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah;

1. Segera menyelesaikan permasalahan yang menjadi penyebab broken home
2. Memperbaiki serta menjaga komunikasi terhadap anak agar tetap lancar dan kondusif
3. Berusaha membuat mereka nyaman sehingga anak bisa lebih terbuka mengenai segala sesuatu yang sedang ia rasakan atau alami
4. Meminta maaf kepada mereka dan menjelaskan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi
5. Menjelaskan bahwa keadaan tersebut bukan salahnya sehingga ia tidak merasa serba salah
6. Memberi pengertian bahwa ia akan tetap baik-baik saja meski orang tuanya tidak lagi bersama
7. Tidak membatasi pertemuan anak dengan ayah/ibunya
8. Mulai mengarahkannya kepada perilaku-perilaku positif secara perlahan
9. Memberikan pendidikan agama sebagai dasar perilaku normatif
10. Mengisi kegiatan luang mereka dengan hal-hal baru yang produktif dan menyenangkan agar dapat tersalurkan bakatnya
11. Memilihkan lingkungan sekolah maupun keseharian yang baik bagi anak serta mengawasi pergaulan mereka dengan sebaik-baiknya
12. Meminta pertolongan psikolog anak jika dianggap perlu

Komentar