Waspada Penularan Virus Cacar Monyet, Kenali Gejala dan Pencegahannya Agar Tidak Tertular

Mengenal Sindrom Cotard Yang Membuat Penderitanya Merasa Dirinya Telah Meninggal

Pernahkan anda mendengar mengenai sindrom cotard ? atau mungkin baru kali ini anda mendengarnya ? Ya, sindrom cotard merupakan suatu penyakit mental atau psikologis langka dimana menyebabkan penderitannya merasa jika dirinya telah meninggal dunia atau merasa hilangnnya anggota tubuh.


Penyakit ini juga sering dijuluki sebagai "Sindrom mayat berjalan", hal ini lantaran penderita percaya bahwa dirinya telah meninggal dunia dan penderitanya pun tidak merasakan adanya sentuhan saat disentuh.

Meski sindrom cotard tidak diklasifikasikan dalam Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental (DSM-V), namun dalam klasifikasi internasional penyakit, Sindrom ini termasuk sebagai "Penyakit Kesehatan Manusia".

Menurut pakar penyakit mental Mind mengungkapkan bahwa, sindrom cotard ini berkaitan dengan psikosis, depresi, skizofrenia dan klinis.

Dilaporkan oleh Independent, juru bicara Mind mengakatakan bahwa sindrom ini langka "Sindrom cotard adalah khayalan atau halusinasi yang biasanya dikaitkan dengan penolakan eksistensi diri." Ujarnya.


Seorang ahli saraf asal Prancis, bernama Jules Cotard lah yang pertama kali mengidentifikasi atau menemukan sindrom ini pada tahun 1800-an. Dimana dia menggambarkan seorang perempuan menderita sindrom ini dan merasa "tidak memiliki otak, tidak punya saraf, tidak punya bagian tubuh dan hanya memiliki kulit dan tulang ditubuh saja yang membusuk."

Menurut Esme Weijun Wang yang merupakan salah satu orang yang pernah mengalami sindrom cotard, menceritakan pengalamannya saat mengalami kondisi tersebut selama dua bulan. Menurut Wang, setelah berminggu-minggu kehilangan "rasa terhadap realitas", dia akhirnya terbangun. Dia mengatakan pada suaminya, jika dorinya telah meninggal dunia satu bulan yang lalu ketika pingsan di pesawat.

"Saya yakin telah meninggal pada penderbangan itu, dan saya berada di akhirat, dan tidak menyadarinya sampai saat itu datang." Ujarnya.

Wang yang sebelumnya didiagnosis dengan gangguan bipolar skizoafektif, akhirnya bisa pulih. Dia sudah tidak merasa dirinya sebagai mayat membusuk lagi.

Gejala Sindrom Cotard

Salah satu gejala utama sindrom cotard adalah nihilisme. Nihilisme ialah kepercayaan bahwa segala hal tidak memiliki nilai atau arti. Hal ini juga bisa mencangkup kepercayaan bahwa tidak ada hal yang nyata.

Pada sebagian penderita sindrom cotard juga berkaitan dengan tubuhnya secara keseluruhan, dan sebagian lainnya hanya merasakan hal ini terkait dengan organ atau komponen tertentu dari tubuhnya. Seperti tidak adanya lengan, tungkai, otak, dada, usus, dan lainnya.

Tidak hanya itu, seseorang yang mengalami delusi atau sindrom cotard juga percaya bahwa dirinya telah meninggal, kritis, dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya misalnya cara minum, makan dan membersihkan diri sendiri.

Ada beberapa gejala atau tanda yang bisa anda kenali pada sindrom cotard ini. Di antaranya :
  • Antesietas
  • Halusinasi atau berkhayal
  • Hipokondria (merasa menderita penyakit tertentu)
  • Rasa bersalah
  • Preokupasi (melukai dirinya sendiri)

Penyebab Sindrom Cotard

Sedangkan untuk penyebabnya sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa mengungkap secara pasti apa penyebab sebenarnya sindrom cotard ini. Namun diduga ada beberapa kondisi kesehatan yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom cotard ini. Seperti :
  • Adanya kerusakan pada otak
  • Gangguan bipolar
  • Depresi pasca-persalinan
  • Skizofrenia
Selain itu, beberapa penelitian juga mengungkap bahwa sindrom cotard ini lebih banyak terjadi pada mereka yang telah memasuki usia sekitar 50 tahun-an dan lebih banyak menyerang wanita dibanding denga pria.

Meski demikian, bukan berarti anak-anak atau remaja tidak bisa mengalami sindrom cotard ini. Seseorang yang berusia dibawah 25 tahun dengan sindrom cotard juga dapat mengalami depresi atau gangguan bipolar.

Apakah sindrom cotard bisa disembuhkan atau dicegah ?

Sindrom cotard umumnya terjadi secara bersamaan dengan kondisi lain. Oleh sebab itulah, pilihan pengobatan dapat berbeda-beda setiap penderitannya. Tergantung dengan kondisi yang dialami. Umumnya pengobatan yang dilakukan adalah psikoterapi dan terapi perilaku.

Namun sayang, mengingat sindrom cotard belu diketahui apa penyebab utamanya, maka belum ada langkah pencegahan yang terbukti efektif dalam mencegah munculnya sindrom cotard ini.


Komentar